17 Mei 2009

Perjalanan Seorang Anak Desa Bernama Zetien


oleh Zinsari


Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Pelajar, Kota Gudeg, remaja ini hanya punya satu tujuan, yaitu bisa masuk UGM. Kepada Ibunya, ia berkata "kalau tidak diterima di UGM, Zetien akan pulang lagi Bu". Ibunya memang sangat berat untuk melepas putra bungsunya jauh-jauh dari sisinya, selain itu juga di keluarganya belum ada satupun yang merantau ke kota lain. Niatnya begitu kuat untuk melanjutkan studinya hingga Zetien nekat berangkat dari desa kelahirannya menuju Yogyakarta. Walau berat, akhirnya Ibunya rela juga, demi anak mengejar masa depan yang lebih baik.

Berbekal selembar ijazah sma plus beberapa helai baju, sedikit uang dari Ibu, Bapak dan Kakak, mulailah Zetien menata masa depan di Yogya. Suatu hal yg tidak dipikirkan adalah mau tinggal dimana ketika sampai di Yogya, untung ada seorang teman yg bersedia menampungnya, walaupun temannya juga ngekos juga, tapi hanya bisa satu-dua hari saja, takut ketahuan ibu kos. Hari-hari berikutnya ia mulailah mencari kos-kosan yang murah, susah juga mencari kos, karena belum tahu jalan,sampai akhirnya ia temukan juga kost yang terjangkau, walau sederhana tapi bisa ditempati, sehingga bisa konsentrasi ke pendaftaran kuliah.

Tekadnya hanya satu masuk UGM, Universitas Gadjah Mada, Universitas yang sangat terkenal. Setelah beli formulir pendaftaran, ia isi dan pilihannya jatuh pada fakultas teknik jurusan teknik elektro (waktu itu namanya masih teknik listrik). Listrik adalah suatu hal yang asing baginya, mengingat sejak kecil belum pernah menikmati terangnya lampu listrik, paling banter lampu petromak, maklum orang desa.

Singkat cerita, tekad ia membuahkan hasil, ia diterima sebagai mahasiswa UGM, fakultas teknik, jurusan teknik listrik. Ia merupakan salah satu dari 50 mahasiswa yg diterima di jurusan itu pada tahun 1979. Tak lupa ia segera kirim surat ke orang tuanya (walaupun orang tuanya buta huruf, tapi ada kakaknya yang bisa membacakannya), memberi kabar kalau ia dapat kuliah di Yogya, Ibu tidak usah khawatir, karena kuliah di UGM didanai oleh Pemerintah, tidak perlu bayar uang gedung, tidak ada sumbangan ini itu, ia hanya perlu bayar rp.30.000,- (tigapuluh ribu rupiah) itu sudah termasuk uang kuliah satu semester, satu stel jaket almamater yang keren.

Awal kuliah merupakan perjuangan berat, mengingat listrik merupakan barang baru baginya, jangankan kestrum, pegang colokan listrik aja belum pernah. Namun berkat tekad dan janjinya kepada sang Ibu, semuanya dapat ia atasi dengan belajar, belajar dan belajar. UGM memang sangat baik, semester berikutnya cukup bayar Rp. 18.000 (delapan belas ribu rupiah), artinya ia hanya bayar Rp. 3.000,- per bulannya, itu sudah all in, tidak ada pungutan lain lagi. Sekarang kalau diingat-ingat, duit segitu mungkin tidak cukup untuk biaya satu kali praktek di laboratorium. Namun demikian, ia tetap membutuhkan dana untuk bayar kos, makan dan beli buku (walaupun terkadang terpaksa beli buku bekas), beruntung kakaknya sudah bekerja sebagai pelayan toko, sehingga upahnya yang tidak seberapa bisa dikirim ke Yogya.

Berkat Dosen

Ketika memasukki semester 6, salah satu dosen elektronikanya memberikan jalan untuk meringankan beban orang tua maupun sang kakak. Ia diterima sebagai guru di sebuah SMA di Yogyakarta, berkat rekomendasi dari sang dosen. Sejak itu, ia punya penghasilan, ia bisa biayai sendiri kebutuhannya di Yogya. Tidak lama berselang, kebaikan kembali datang, kali ini datang dari dosen bidang komputer, ia bersama temannya diangkat jadi asisten sang dosen, suatu kebanggan, menambah pengalaman sebagai bekal untuk mematangkan diri, tetapi juga dapat bayaran lagi.

Si Tukang Sayur

Ketika sudah punya penghasilan dari mengajar dan asisten dosen, ia punya sedikit simpanan sehingga bisa pulang ke desanya ketika liburan semesteran. Pekerjaan yang ia lakukan sejak SMP hingga SMA pun ia lakukan lagi ketika mengisi liburan, yaitu sebagai pedagang sayur keliling dengan sepeda bututnya. Rupanya para pelanggannya yang umumnya ibu-ibu terkaget-kaget melihat kehadiran kembali sang penjual sayur. Pertanyaan yang sama selalu disodorkan kepadanya, yaitu "Kemana aja? Kok lama ga jualan?" Lalu jawabannya pun sama, "saya kuliah di Yogya, UGM". Tadinya, ia agak malu, tetapi akhirnya ternyata justru jawabannya sangat berkesan di hati para pelanggan, sehingga hari-hari berikutnya dagangannya menjadi sangat laku. Ibu-ibu tidak sabaran menanti kedatangannya setiap hari, bahkan terkadang ia harus berjualan lebih dari satu trip. Rupanya ibu-ibu tidak menyangka seorang anak desa bisa menjadi mahasiswa di universitas yang terkenal itu dan kok masih mau jualan sayur. Sebenarnya ia mengisi liburan dengan berjualan sayur itu, selain membantu keluarga petani ini untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, ia juga berupaya merealisasikan janjinya kepada sang kakak perempuannya. Sejak SMP ia sudah berjanji untuk membelikan satu unit mesin jahit kepada kakaknya agar sang kakak bisa menjahit. Ia memang berasal dari keluarga petani sayur di desa kecil, di Jambi, rumahnya persis di pinggiran hutan, rumah yg terbuat dari kayu-kayu gelondongan lalu ditutupi dengan daun atap dan berlantai tanah merah yang polanya bisa berubah-ubah sesuai dengan penambahan tanah yang terbawa dari ladang. Bapaknya seorang petani tulen, setiap pagi menjajakan sayuran dari ladang sendiri ke pasar, penghasilannya cukupan, yaitu cukup buat beli beras, garam dan gula, kadang-kadang masih bisalah beli baju walaupun masih ada cap perusahaan terigu. Kalau lauk tidak perlu beli, karena sayur tinggal petik dari ladang, ikan bisa tangkap di payoh atau di kolam. Entah kenapa sampai pada kalimat ini, mata saya basah dan hidung sedikit meler...

Ibu Bapak KosBeruntung ia akhirnya mendapatkan tempat kos yang murah dan baik. Ibu/Bapak kos sangat baik, mereka memperlakukannya seperti anak sendiri. Ketika ia sakit, sang Ibu kos memasakkannya bubur, bahkan tak jarang mengantarkannya berobat. Kebaikan ibu/bapak kosnya tidak dilupakan, bahkan sampai sekarang ia masih menjalin tali silahturahmi dengan mereka. Begitu juga rekan-rekan kos lainnya semua sangat bersahabat dan masih terjalin hubungan baik, walau beberapa baru ditemukan kembali lewat facebook.

Ketika hari wisuda tiba, orang tuanya tidak bisa hadir, karena keterbatasan dana, maka Ibu/Bapak kos pun bersedia menjadi orang-tua sementara menghadiri acara wisuda. Ia yakin orang tua sementaranya pun turut bangga melihat anak kosnya berhasil menjadi seorang sarjana dan mendapat kehormatan menerima ijazah dari sang Dekan, karena prestasinya lulus dengan predikat Cumlaude. Ia juga adalah lulusan tercepat di angkatannya.

Berkat Sang Dosen

Ketika masih di bangku kuliah selalu mendapat tugas dari salah satu dosen senior, yaitu tugas melakukan eksprimen, tugas mencari pembuktian yang berkaitan dengan matematika maupun komputer dan yang tidak ketinggalan adalah tugas menulis. Tugas menulis biasanya untuk mendukung publikasi sang dosen di majalah-majalah luar negeri. Saat itu, terkadang dia merasa dimanfaatkan, namun bangga juga, karena tidak semua mahasiswa beliau diberi kesempatan seperti itu. Untuk mendukung tugas itu, acap kali dia dibelikan buku-buku jika sang dosen ke luar negeri, diberi kunci laboratorium agar dapat leluasa menggunakan laboratorium. Berkat dosen itulah, sekarang dia menjadi terbiasa menulis, bahkan telah menerbitkan 9 judul buku tentang komputer. Melalui buku-buku yang diterbitkan, ia menjadi dikenal orang, terutama para mahasiswa, tidak hanya di negeri sendiri, bahkan sampai ke negeri tetangga. Keahliannya dalam menulis telah mengantarkan perjalanan hidup seorang anak desa hingga menjadi konsultan di perusahaan besar sekaligus menggantikan peran orang asing di perusahaan tersebut, hitung-hitung ikut menghemat devisa negara.

Kegiatan Sekarang
30 tahun kemudian, kini melalui usahanya ia berusaha membantu pengusaha mikro dalam hal permodalan. Pengalaman hidup susah di masa kecil mudah-mudahan masih terus menjadi bekal pemahaman terhadap masyarakat kecil dan berjuang bersama dengan berbagai pihak untuk mengentaskan kemiskinan. Ia juga sadar pentingnya pendidikan, oleh karena itu ia antusias sekali setiap kali ada kesempatan berbagi ilmu.

Perjuangan Belum Selesai...


Kini anak desa ini sudah menjadi orang dewasa bahkan menjadi orang tua dari anak-anaknya, perjuangan masih berlanjut...tetapi minimal kisah perjuangan ini dapat mengingatkan anak-anaknya bahwa segala sesuatu itu adalah hasil perjuangan yang keras dan panjang. Tidak ada sukses yang datang tiba-tiba, tidak ada sukses dengan berharap pada orang lain, melainkan berawal dari usaha, berawal dari berjuang, berawal dari berikhtiar, berawal dari berdoa...dan kalau Tuhan mengizinkan.

26 Apr 2009

Sertifikasi Direksi BPR

oleh Zinsari


Seperti diketahui bahwa Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia no 6/22/PBI/2004 tanggal 09-08-2004, dimana Direksi BPR wajib memiliki sertifikat kelulusan dari lembaga sertifikasi. Dalam PBI tersebut juga diatur, bahwa paling sedikit 1 (satu) orang anggota Direksi wajib memiliki sertifikat kelulusan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2006 dan anggota Direksi lainnya wajib memiliki sertifikat kelulusan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2008. Kemudian dipertegas melalui Paket Oktober 2006, yaitu nomor 8/26/PBI/2006 tanggal 8 November 2006. Karena berbagai pertimbangan, ketentuan batas akhir pemenuhan PBI ini diperpanjang hingga 31 Des 2009.


Seorang yang telah/akan menjabat sebagai Direksi BPR diwajibkan memiliki sertifikat kompetensi untuk 10 (sepuluh) unit kompetensi. Selama ini, kita lebih sering menyebutnya 10 modul, sebenarnya modul lebih cocok digunakan untuk materi pelatihan, sedangkan untuk uji kompetensi digunakan sebutan unit kompetensi. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 227/MEN/2003 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 69/MEN/V/2004 tentang Perubahan Lampiran Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 227/MEN/2003 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.


BNSP & LSP LKM CERTIF


Badan Nasional Sertifikasi Profesi adalah lembaga independen yang bertanggungjawab kepada Presiden, berdasarkan Peraturan Pemerintah no 23 tahun 2004 tentang BNSP. Badan ini bertugas menyelenggarakan sertifikasi melalui uji kompetensi. Dalam pelaksanaannya, BNSP memberikan lisensi kepada lembaga-lembaga sertifikasi profesi yang umumnya dibentuk oleh asosiasi sektor industri terkait. LSP LKM Certif adalah pemegang lisensi untuk melakukan sertifikasi bagi para pelaku di bidang keuangan mikro, termasuk BPR.

Dasar yang digunakan oleh LSP LKM Certif di dalam melakukan sertifikasi adalah SKKNI Sektor Keuangan Sub Sektor Perbankan, Bidang Bank Perkreditan Rakyat berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP. 263 /MEN/ XI /2004, yang ditetapkan pada tanggal 26 November 2004. Unit-unit kompetensi sesuai KepMen tersebut adalah sbb:


KODE UNIT UNIT KOMPETENSI

KEU.BN02.001.01 Melaksanakan Best Practices Di Bidang Keuangan Mikro.

KEU.BN02.002.01 Melaksanakan Prinsip-Prinsip Manajemen SDM

KEU.BN02.003.01 Menghitung Biaya dan Menetaokan Harga

KEU.BN02.004.01 Mengelola Resiko Kredit

KEU.BN02.005.01 Mengelola Aktiva dan Pasiva

KEU.BN02.006.01 Menilai Pasar dan Memasarkan Produk BPR

KEU.BN02.007.01 Menerapkan Sistem Informasi Manajemen

KEU.BN02.008.01 Mengimplementasikan Pengaturan dan Pengawasan BPR

KEU.BN02.009.01 Menerapkan Sistem Pengendalian Intern

KEU.BN02.010.01 Menyusun Rencana Bisnis


Di dalam setiap unit kompetensi terdapat beberapa elemen kompetensi yang masing-masing terdiri dari beberapa kriteria unjuk kerja. Dengan demikian, setiap orang yang akan mengikuti uji kompetensi tersebut dapat terlebih dahulu memahami apa saja unjuk kerja yang dipersyaratkan dalam setiap unit kompetensi tersebut, sehingga sebelum mengikuti uji kompetensi, seorang asesi (peserta uji) dapat mempersiapkan diri dan berkeyakinan diri bahwa ia telah kompeten terhadap unit-unit kompetensi yang akan diikutinya. Di dalam pedoman uji kompetensi, seorang asesi harus terlebih dahulu merasa dirinya kompeten sebelum dapat dilakukan asesmen.

Di dalam asesmen, sekurang-kurangnya ada 3 unsur kompetensi yang harus ditunjukkan oleh seorang peserta uji, yaitu unsur Skill, Knowledge dan Attitude; serta memenuhi 5 dimensi kompetensi, yang antara lain adalah task skill, task management skill, contigency management skill, environment skill dan transfer skill. Bagaimana seorang peserta mengetahui bahwa ia telah menguasai 3 unsur kompetensi dan 5 dimensi kompetensi tersebut? Hal itu, sepenuhnya merupakan tugas seorang asesor (penilai/penguji) untuk mengungkap kompetensi seorang peserta. Kompetensi seseorang asesi adalah berdasarkan penilaian atas bukti-bukti yang ditunjukkan oleh asesi selama mengikuti uji kompetensi atas kriteria unjuk kerja yang telah ditetapkan dalam setiap unit kompetensi yang diikuti. Apabila asesi mampu menunjukkan unjuk kerja sesuai dengan kriteria unjuk kerja, maka dinyatakan kompeten. Sebaliknya, dikatakan belum kompeten, sehingga perlu belajar lagi, atau berlatih lagi untuk mengikuti uji ulang di kesempatan berikutnya. Jadi, kita tidak mengenal istilah Tidak Kompeten.

Sering muncul pertanyaan: Mengapa sertifikat kompetensi mempunyai batas waktu? Mengapa ijazah pendidikan formal tidak ada masa berlakunya? Perlu diketahui, bahwa ijazah memang berbeda dengan sertifikat kompetensi, ijazah merupakan bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sedangkan sertifikat kompetensi adalah bukti bahwa seseorang telah kompeten atas suatu unit kompetensi. Sertifikat kompetensi diberikan ketika asesi telah dapat membuktikan kompetensinya terhadap kriteria unjuk kerja yang dipersyaratkan. Oleh karena, adanya unsur skill di dalam penilaian kompetensi, maka sudah tentu perlu diuji ulang dalam kurun waktu tertentu apakah ia masih kompeten atas kriteria unjuk kerja tersebut, mungkin saja setelah memperoleh sertifikat kompetensi, lalu ada masa tertentu dimana ia tidak melakukan pekerjaan tersebut, sehingga kompetensinya perlu dinilai kembali apakah masih kompeten? Alasan lain, adalah bahwa adakalanya standard kompetensi kerja itu sendiri perlu adanya penyesuaian terhadap tuntutan kerja seiring dengan perkembangan teknologi ataupun perubahan peradaban.


Bagaimana Mempersiapkan Diri Menghadapi Uji Kompetensi Tersebut?


Di dalam mekanisme uji kompetensi menurut pedoman BNSP tidaklah mempermasalahkan bagaimana seseorang mempersiapkan diri, yang penting peserta merasa dirinya kompeten dan menyatakan dirinya siap untuk diuji. Ketentuan yang berlaku di LSP LKM Certif saat ini adalah bahwa seorang harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan. Keharusan itu dapat dipahami, selain agar seorang peserta mendapatkan materi apa yang harus dikuasai, juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan integritas seorang peserta, khususnya di bidang perbankan. Seperti diketahui bahwa di dalam pelatihan berbasis kompetensi (CBT, Competency Based Training), materi pelatihan disusun berdasarkan SKKNI yang ada, sehingga dengan mengikuti pelatihan, diharapkan peserta akan lebih dapat mempersiapkan diri di dalam menghadapi uji kompetensi. Disamping itu, peserta juga mendapatkan materi integritas yang disampaikan oleh Tim dari Bank Indonesia. Materi integritas tidak saja bermanfaat bagi peserta yang akan mengikuti fit & proper test di Bank Indonesia, tetapi juga menjadi pembekalan diri saat melaksanakan tugasnya sebagai Direksi BPR, sehingga dapat mengelola BPR-nya dengan penuh tanggung jawab dan integritas yang tinggi. Jadilah seorang Direksi BPR yang Kompeten dan berIntegritas!

22 Apr 2009

Modal Besar, Bank Kuat, Apakah Sejalan dengan Semangat Meningkatkan Perekonomian Rakyat Kecil?

oleh Zinsari


Ada anggapan bahwa bank harus kuat agar dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik. Ada kecenderungan untuk mendorong bank kecil agar bergerak menjadi bank besar.
Salah satu ukuran bank kuat adalah adanya permodalan yang besar pula. Semakin besar modal bank, maka sesuai ketentuan otoritas perbankan, maka besarnya kredit yang bisa diberikan kepada tiap-tiap nasabah (termasuk kelompok nasabah) akan semakin besar, kita ketahui batas maksimum pemberian kredit kepada tiap nasabah ataupun kelompok nasabah adalah 20% dari modal bank.

Sesuai hukum ekonomi, maka bank akan mencari jenis usaha yang lebih efisien, sehingga secara teori biaya penyaluran kredit kepada segelintir orang akan lebih ringan dibandingkan biaya penyaluran kredit dalam jumlah yang sama kepada banyak nasabah kecil-kecil. Apa artinya? Tentunya bank yang kuat akan kurang berminat menyalurkan kredit kepada masyarakat kecil.
Akibatnya, harapan meningkatkan perekonomian masyarakat kecil semakin susah untuk diwujudkan.

Kalau bank yang kecil dipaksa menjadi besar melalui ketentuan pemenuhan modal disetor, apa mungkin? jawabannya, mungkin saja, tetapi bank keil terpaksa dicaplok oleh konglomerat. Kasihan benar yang kecil, terutama yang berhati mulia, mengelola banknya dengan penuh integritas dan semangat membangun perekonomian masyarakat sekitarnya, suatu saat harus diserahkan kepada konglomerat yang menikmati jerih payahnya. Umumnya konglomerat enggan melayani yang kecil-kecil, sehingga harapan peningkatan perekonomian masyarakat kecil semakin jauh.

Sungguh menyenangkan seandainya kita biarkan bank-bank itu berkembang secara alamiah, biarlah ada yang besar dan biarlah pula ada yang kecil, yang penting semuanya beroperasi secara sehat. Bank yang besar, bank yang kuat melayani yang besar, sementara yang kecil melayani yang kecil pula.

Memang, kebijakan masa lalu telah menimbulkan munculnya banyak bank. Banyak pemilik maupun pengusus yang tidak memahami bisnis perbankan secara utuh, sehingga bisnis bank diperlakukan seperti usaha dagang biasa. Selain itu, mungkin faktor integritasnya masih jauh dari harapan. Meskipun demikian, kasus-kasus itu tentu tidak dapat digeneralisir. Tidak semua bank besar baik, tidak semua bank kecil jelek. Bank besar yang tidak benar harus ditindak, bank kecil yang bagus harus terus didukung.



Kisah Seorang Siswa yang Ingin Selalu Tampak Pintar




Kesan Pertama Begitu Menggoda...
Ketika pertama kali masuk sekolah di SMU, Zetien, siswa kelas 1 ini sudah berusaha mencari muka pada setiap guru yang ngajar di kelasnya. Dia berusaha agar kelihatan seperti siswa pintar di depan guru-gurunya. Dia berusaha bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari setiap guru. Seperti iklan di TV, para guru akan merasakan betapa kesan pertama itu begitu menggoda, maksudnya begitu menakjubkan. Hasilnya pasti terbentuk image bahwa siswa itu adalah siswa yang luar biasa (pintar), baik di kalangan guru maupun teman-teman siswa itu sendiri.

Rahasia Langkah Pertamanya:

Ketika siswa yang lain masih menunggu apa yang akan diajarkan oleh sang guru, Zetien telah menyiapkan diri dengan membaca buku-buku yang sekiranya menjadi bahan pelajaran siswa SMU. Ketika siswa lain masih bengong, Zetien sudah paham, karena di kelas ia seolah hanya mereview saja.

Langkah pertamanya sudah berhasil, what next?
Mempertahankan image merupakan strategi pilihannya. Konsekuensinya? ya harus kembali berusaha agar kelihatan seperti siswa yang luar biasa. Ketika siswa lain masih berupaya memahami apa yg disampaikan oleh guru, Zetien sudah mempersiapkan diri untuk materi berikutnya. Begitulah seterusnya, sehingga Zetien akan selalu berada di depan, selalu kelihatan lebih pintar dari siswa lainnya.

Menciptakan motivasi bagi dirinya...

Meskipun tujuan awalnya adalah cari-cari muka, namun ternyata hal itu telah menjadi motivasi diri bagi Zetien untuk terus belajar, bahkan berusaha lebih keras dari kebanyakan siswa lainnya. Kini baru disadari, apa yang dilakukan puluhan tahun silam itu sebenarnya adalah suatu strategi memacu diri.
...

19 Apr 2009

Aktualisasi Diri Lewat Tulisan


Ketika masih di bangku kuliah selalu mendapat tugas dari sang dosen (pak Fx.Soesianto, salam hormat pak), yaitu tugas melakukan eksprimen, tugas mencari pembuktian yang berkaitan dengan matematika maupun komputer dan yang tidak ketinggalan adalah tugas menulis. Tugas menulis biasanya untuk mendukung publikasi beliau di majalah-majalah luar negeri. Saat itu, terkadang saya merasa dimanfaatkan, namun bangga juga, karena tidak semua mahasiswa beliau diberi kesempatan seperti itu. Untuk mendukung tugas itu, saya dibelikan buku-buku jika beliau ke luar negeri, diberi kunci laboratorium agar dapat leluasa menggunakan laboratorium. Saya juga diangkat sebagai asisten beliau di berbagai jurusan dimana beliau mengajar, maksudnya agar saya mendapat pengalaman sekaligus mendapat bayaran tentunya...

Setelah lulus S1, baru saya sadari bahwa Sang Dosen sebenarnya adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, karena dialah saya menjadi terbiasa untuk menulis, termasuk mengikuti jejak beliau menulis buku. Sejak tahun 1985 sampai tahun 2000 saya telah berhasil menulis 9 judul buku komputer dan tulisan saya juga sempat menghiasi berbagai majalah komputer. Dan kini, saya juga menjadi penulis modul-modul pelatihan, serta aktif menulis di majalah.

Mengapa saya berpikir untuk menulis buku?

Ketika pertama kali merantau ke Jakarta, berbekal selembar ijazah S1 ternyata tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika dompet sudah mulai menipis, maka tidak ada cara lain, kecuali melamar pekerjaan dari pintu ke pintu, artinya dari pintu kantor yg satu ke pintu kantor yang lain, sampai akhirnya ada sebuah jaringan toko komputer yang berpusat di Amerika bersedia menerima saya, itupun sebagai salesman. Jangan tanya gajinya berapa? mungkin sangat malu, seorang sarjana hanya dibayar segitu, namun apa boleh buat, perut perlu diisi, kos perlu dibayar. Sebulan berlalu, sang pimpinan melihat potensiku, sehingga dipindahkan ke posisi system engineer, istilah kerennya tukang insinyur sistem, termasuk memberikan training kepada customer. Materi yang sedang top saat itu adalah Lotus 1-2-3, spreadsheet yang sangat populer saat itu, sayapun menyiapkan materi pelatihan untuk itu.

Sang dosen kembali menjadi inspirasiku, mulailah berpikir bagaimana menggunakan keahlianku yang ditulari oleh dia bisa saya gunakan untuk memperbaiki nasib. Akhirnya saya bertekad untuk mempubilkasikan nama saya sendiri, agar dikenal orang. Singkat cerita, materi pelatihan yang ada saya konversi menjadi naskah buku, maka jadilah saya seorang penulis buku komputer yang kebetulan jaman itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. Tentu jalan termudah adalah menyerahkan kepada penerbit dimana Sang Dosen menerbitkan buku, Andi Offset, karena mereka juga mengenal saya ketika masih menjadi asisten dosen (terima kasih Bpk Gondo, pemilik Andi Offset).


AWAL PERJUANGAN YANG TERNYATA SANGAT MENENTUKAN

Setelah buku-buku saya terbit, saya tidak tinggal diam, setelah pulang kantor saya selalu membawa buku-buku saya untuk ditawarkan kepada toko-toko komputer di daerah Glodok, Jakarta dengan maksud agar buku saya cepat dikenal dan tentu saja sekaligus mendapat tambahan penghasilan. Kadang-kadang pemilik toko mungkin merasa iba melihat perjuangan saya, sehingga kerap kali ia memesan buku saya, meskipun stocknya masih banyak (terima kasih banyak bapak Yos Budiharjo, seorang pemilik toko komputer di Glodok Jakarta). Hari minggu biasanya saya habiskan untuk berkunjung ke toko buku, bukan untuk membeli buku, tetapi memandang buku-buku saya yang dipajang disana, sering pula saya ikut menata pajangan buku agar mudah terlihat oleh pengunjung dan tak jarang pula saya ikut menyarankan pengunjung untuk membeli buku saya dengan iming-iming dapat tanda tangan saya langsung. Karena sering nongkrong di toko buku, maka pramuniaga toko buku pun banyak yang kenal dengan saya, sampai-sampai suatu hari saya didatangi seorang wartawan yang ingin mewawancarai saya. Momen itu tentu tidak saya sia-siakan untuk dapat menampilkan profile saya di suatu harian minggu saat itu.

PERAN ALUMNI

Seorang alumni Universitas Gadjah Mada yang lebih senior yang saat itu sebagai salah satu pejabat di PLN Jakarta turut berperan dalam karier saya (maaf pak saya lupa nama Bapak, saya tahu Bapak yang menolong saya, meskipun melalui teman Bapak yang bernama Bpk Toto Tanamas). Beliau beberapa kali membuat workshop komputer dengan topik pembahasan buku saya. Disitulah saya merasakan bahwa kerja keras selama ini mulai menuai hasil, setiap acara workshop, saya sebagai pembicaranya (meskipun masih grogi), namun saya selalu memberanikan diri, apalagi pesertanya selalu antusias. Semangat menulis pun jadi semakin meningkat, hingga tidak terasa saya sudah menghasilkan 9 judul buku komputer.

DICARI KARENA NAMA

Berkat acara-acara workshop itu pula, ada seorang peserta workshop yang kemudian mengajak saya untuk bergabung di suatu perusahaan distribusi obat-obatan yang sangat terkemuka. Saya merasa terlalu cepat, mendapat posisi yang ditawarkan, sebagai seorang manager EDP yang membawahi puluhan staff yang umumnya jauh lebih tua. Asal tahu saja, saat itu menggunakan IBM S/36, komputer yang belum pernah saya lihat, apalagi menggunakannya. Sekali lagi, nama besar harus dipertahankan, jangan buat malu, belajar, belajar dan belajar, minimal bisa menyalakan dan mematikan mesin itu. Saya banyak belajar dari staff dan tentunya dari USI-IBM. Ketika mendapatkan kendaraan dinas, saya pun bingung, karena belum bisa mengendarainya.

Suatu hari saya didatangi beberapa staff dari suatu perusahaan milik negara yang meminta saya untuk menggantikan peran orang asing di perusahaan tersebut di dalam menangani teknologi informasinya. Ternyata mereka mengenal saya memalui buku dan mendapatkan alamat saya dari penerbit buku Andi Offset . Singkat cerita, saya pun bergabung disana, karena ini merupakan pekerjaan yang sangat menantang dan sekaligus membantu perusahaan tersebut dari ketergantungan kepada tenaga asing dan sekaligus juga ikut menghemat pengeluaran devisa tentunya. Tidak terasa pula, saya menjadi konsultan di perusahaan ini hingga 10 tahun.

KESIMPULAN

Kegiatan menulis yang saya lakukan ternyata telah menjadi jalan aktualisasi diri saya, menjadikan saya dikenal orang, mendatangkan pekerjaan yang selalu lebih menantang dan tentu lebih hasilnya. Tentu saja menulis bukanlah satu-satunya, melainkan masih banyak cara untuk aktualisasi diri. Ketika kita bukan siapa-siapa, maka perlu usaha dan perjuangan yang tak henti dan tidak perlu gengsi untuk melakukan hal-hal agar kita menjadi orang yang dapat diperhitungkan melalui cara-cara yang positif tentunya.

Saat ini, saya pun masih bukan siapa-siapa, sehingga masih terus berjuang untuk aktualiasi diri…termasuk menulis di blog ini.

18 Apr 2009

Asesor dan Peningkatan Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia

SIAPA ASESOR ITU?

Dalam Pedoman BNSP 201-2005 disebutkan bahwa asesor kompetensi adalah seseorang yang mempunyai kualifikasi yang relevan dan kompeten untuk melaksanakan asesmen atau penilaian kompetensi. Seorang dinyatakan sebagai asesor kompetensi apabila memiliki nomor register dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan sertifikat kompetensi untuk bidang pekerjaan asesmen/uji kompetensi. Selain itu, seorang asesor juga harus:

 mengerti skema sertifikasi yang relevan,
 memiliki pengetahuan yang cukup mengenai metode uji atau bagian dari suatu uji,
 memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang yang akan diuji,
 mampu berkomunikasi dengan efektif baik secara lisan maupun tulisan dalam bahasa yang digunakan dalam uji, dan
 bebas dari kepentingan apapun, sehingga dapat melakukan asesmen dengan tidak memihak dan tidak diskriminatif.

Asesmen adalah sebuah proses yang sistematis dalam mengumpulkan bukti-bukti, kemudian membandingkan bukti-bukti tersebut dengan standard kompetensi dan membuat keputusan apakah seseorang telah mencapai kompetensi. Oleh karena itu, seorang asesor harus memiliki kompetensi berikut:

 merencanakan asesmen,
 melaksanakan asesmen,
 mengkaji ulang asesmen

Proses untuk menjadi seorang asesor adalah dengan mengikuti program pelatihan asesor kompetensi secara lengkap, mengikuti proses penilaian yang dilakukan oleh Master Asesor dan direkomendasikan kompeten sebagai asesor uji kompetensi sesuai dengan unit-unit kompetensi penilaian yang dipersyaratkan.

Seorang asesor kompetensi mampu merencanakan asesmen dengan baik, sehingga dapat melakukan penilaian terhadap seorang peserta uji (asesi) secara tepat tentang pencapaiannya terhadap standard kompetensi.

Lebih rinci lagi, seorang asesor mampu menilai pencapaian seorang peserta uji terhadap setiap kriteria unjuk kerja yang ada dalam standard kompetensi dengan mengikuti panduan penilaian yang ada, untuk mengungkap 3 unsur kompetensi (skill, knowledge, attitude) berdasarkan tingkatan yang sesuai pada setiap kompetensi kunci.

Di dalam penilaiannya, seorang asesor juga berdasarkan 5 dimensi kompetensi, yaitu task skill, task management skill, contigency management skill, environment management skill, transfer skill.

Perlu diketahui, bahwa semua perencanaan asesmen haruslah tertulis. Hal ini menjadi penting, karena asesmen haruslah bersifat fair, reliable dan konsisten. Untuk itu, di dalam melakukan asesmen, seorang asesor harus mengikuti prinsip-prinsip asesmen dan mengikuti aturan-aturan di dalam pengumpulan bukti. Asesor juga dituntut menguasai sejumlah metode asesmen, sehingga betul-betul dapat menerapkan berbagai metoda yang cocok untuk dapat mengungkap secara optimal terhadap pencapaian unjuk kerja oleh peserta uji.

Asesor bukanlah pengawas, asesor adalah penilai yang bekerja secara kemitraan dengan peserta, oleh karena itu asesor harus dapat membuat peserta uji dalam kondisi nyaman, tidak dalam posisi tertekan, grogi dan sebagainya.

Sebagai asesor tentu berbeda dengan profesi dokter, jika seorang dokter dapat membuka praktek sendiri di rumah, sedangkan asesor tidak. Seorang asesor bekerja atas penugasan dari LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi). Tugas seorang asesor hanya sampai pada merekomendasikan peserta uji, apakah dapat dinyatakan kompeten atau belum, sedangkan keputusan dan sertifikat kompetensi diterbitkan oleh LSP yang bersangkutan. Berbeda pula dengan jenjang pendidikan yang dinyatakan dengan ijasah yang berlaku seumur hidup, kompetensi sebagai asesor mempunyai batas waktu ( saat ini 2 tahun), dimana dalam masa tersebut, ia harus selalu mempertahankan kompetensinya, misalnya dengan aktif melakukan tugasnya sebagai asesor. Anda berminat jadi seorang asesor?

DAYA SAING TENAGA KERJA INDONESIA

Kita ketahui bahwa saat ini daya saing sumber daya manusia Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk rendahnya tingkat daya saing global sektor industri di Indonesia. Kompetensi tenaga kerja kita masih sangat minim dibandingkan dengan tenaga kerja dari negara lain. Hal ini dikarenakan, sistem pendidikan kita tidak sejalan dengan tuntutan dunia kerja. Oleh karena itu, seharusnya kita lebih banyak menyiapkan tenaga kerja melalui pelatihan yang berbasis kompetensi (competency based training). Sehingga, nantinya peran asesor menjadi sangat penting, karena para peserta pelatihan maupun para tenaga kerja yang sudah berpengalaman perlu mendapatkan pengakuan terhadap standard kompetensi kerja. Semakin banyak tenaga kerja kita yang kompeten, tentu semakin meningkat daya saing tenaga kerja kita.

MENCARI POLA HIDUP BERBOBOT 100%

Orang bilang, hidup itu suatu pilihan, menjadi orang kaya atau menjadi orang yang biasa-biasa saja, yang pasti tidak ada orang yang memilih sebagai orang miskin. Ada yang mengatakan hidup akan sangat bermakna apabila selalu senyum, penuh cinta, dan sebagainya. Sering kali orang menggunakan bahasa diplomatis berikut: „ingin hidupnya bermanfaat dan bernilai“. Jika nilai maksimal adalah 100, apakah anda pernah berpikir bagaimana membuat hidup anda berbobot 100%? Jika pilihan-pilihan tersebut menjadi favorit anda, pernahkah anda menghitung berapa bobot dari masing-masing pilihan tersebut? Jika anda belum punya ide, mungkin ide berikut bisa dicoba.

Ide tersebut tidak jauh dari matematika sederhana, kalau susunan abjad dari A s/d Z kita beri bobot dari 1 s/d 26, seperti berikut ini:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Kemudian kita jumlahkan bobot masing-masing huruf dalam setiap kata-kata yang dapat menjadi pilihan hidup tersebut, misalnya kata KAYA = 38. Caranya adalah sebagai berikut:

KAYA = 11 + 1 + 25 + 1 = 38

Bagaimana kalau kita pakai bahasa Inggeris? Apakah menjadi kaya (RICH) akan membuat hidup anda berbobot 100%?

RICH = 18 + 9 + 3 + 8 = 38

Ternyata KAYA ataupun RICH hanya akan membuat hidup anda berbobot 38%. Lalu, bagaimana dengan orang yang hidup penuh dengan kasih sayang? Kasih sayang identik dengan cinta, apakah LOVE akan membuat anda hidup 100%?

LOVE = 12+15+22+5 = 54

Ternyata hidup dengan cinta (LOVE) hanya mempunyai bobot 54%, sedikit lebih baik dari pada kaya, karena itu di dalam film ataupun cerita sering disampaikan bahwa cinta lebih bernilai dari pada harta. Kemudian, bagaimana dengan seseorang yang punya kekuasaan, apakah dengan ‘power’ yang dimilikinya tersebut akan membuat hidupnya berbobot 100%?

POWER = 16+15+23+5+18 = 77

Ternyata hidup dengan ’power’ hanya berbobot 77%. Bagaimana kalau kita coba kata ’PINTAR’?

PINTAR = 16+9+14+20+1+18 = 78

Orang pintar lebih berbobot dari pada orang kaya, karena pintar dapat menjadi modal anda untuk menuju kaya; orang pintar lebih berbobot dari pada kekuasaan, karena orang pintar dapat menjadi modal untuk menuju puncak kekuasaan; namun tetap belum mencapai 100%.
Jika kaya, cinta, kekuasaan dan pintar tidak dapat membuat bobot hidup kita menjadi 100%, kira-kira apalagi yang perlu kita lakukan agar hidup kita benar-benar bermakna? Apakah anda punya pilihan hidup yang lain? Yang jelas, apapun yang anda pilih, apabila kita selalu menjaga sikap (atitude) kita di dalam berinteraksi dengan pihak lain, maka tentu akan lebih baik. Percaya atau tidak, ternyata kata ’ATTITUDE’ kalau diberi bobot dengan cara diatas, akan menghasilkan nilai 100.


A+T+T+I+T+U+D+E = 1+20+20+9+20+21+4+5 = 100

Ternyata attitude atau sikap dapat membuat hidup kita berbobot 100%, karena itu selalu berusahalah untuk bersikap baik, karena sikap yang baik akan membuat anda 100% baik, sedangkan sikap buruk akan membuat anda 100% buruk pula. Orang kaya yang mempunyai sikap yang baik dan rendah hati akan menjadi modal utama bagi dirinya untuk tetap kaya, dimana orang lain akan senang berhubungan dengannya, baik dalam bisnis ataupun hubungan lainnya. Seorang pejabat yang mempunyai kekuasaan dan mempunyai sikap yang baik, tentu merupakan modal utama untuk menarik simpati dan menjadi panutan masyarakat.

Khususnya di dalam dunia kerja, sikap kerja merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi seorang pekerja terkait dengan pekerjaannya dan lingkungannya. Karier seseorang juga sangat dipengaruhi bagaimana dia bersikap di dalam melakukan pekerjaan, sikap dia dalam mengelola tugas-tugas yang ada, sikap dia dalam menghadapi lingkungan kerja, sikap dia ketika menghadapi sesuatu kejadian, dan bagaimana sikap dia ketika menghadapi suatu situasi kerja yang berbeda dari biasanya. Karena sikap begitu penting, maka tidak heran kalau di dalam kompetensi kerja, sikap menjadi salah satu unsur di dalam penilaian kompetensi. Tahukah anda bahwa di dalam penilaian kompetensi kerja ada 3 unsur kompetensi, yaitu Knowledge, Skill, dan Attitude.
Kalau kita gunakan rumus di atas, maka didapat bobot Skill adalah 63, bobot Knowledge adalah 90, dan Attitude berbobot 100. Karena itu, selain sikap kerja yang mempunyai bobot yang sangat tinggi, penguasaan pengetahuan juga sangat penting di dalam mendukung skill anda. Dapat pula dikatakan, skill saja tidak cukup, kita perlu penuhi diri kita dengan pengetahuan dan selalu menunjukkan sikap kerja yang baik. Jika banyak orang yang menerapkan prinsip tersebut, maka negara kita akan banyak tenaga kerja yang baik, semoga.

SKS: SUKSES KARENA SERIUS



SKS, biasanya adalah singkatan dari Satuan Kredit Semester, atau sering diplesetkan oleh para pelajar sebagai Sistem Kebut Semalam, artinya belajar kalau ada ujian saja. Sistem kebut semalam tidak akan membuat anda pintar dan kalaupun sukses, itupun hanya kebetulan. SKS yang akan ditampilkan disini adalah Sukses Karena Serius. Ada orang-orang yang dengan serius menekuni suatu pekerjaan, sehingga ia meraih kesuksesan yang luar biasa. Jika anda tidak serius pada pekerjaan anda sekarang, mungkin saatnya anda pikir kembali, buat apa sia-siakan waktu anda. Berikut adalah beberapa kisah sukses orang yang menekuni pekerjaannya.


Menjadi Kaya karena Bermain, percaya atau tidak?

Anak-anak main di Time-Zone? Itu sih hal biasa. Kakek-nenek main di Time-Zone? Itu pun biasa. Yang luar biasa adalah pak Rudi (nama samaran), pria sederhana ini sering sekali saya jumpai di tempat permainan itu. Tidak ada ekspresi layaknya orang yang bergembira menikmati permainan, pria setengah baya ini terlihat santai, namun serius bermain. Motivasi pak Rudi bukan untuk bersenang-senang menikmati aneka permainan, ia hanya terfokus pada satu mesin permainan yang dapat mengeluarkan tiket.

Setiap hari pria ini bermain dari mal yang satu ke mal yang lain, baginya bermain adalah kerja, duduk di depan mesin dengan satu tujuan, yaitu menguras tiket yang ada di mesin itu. Karena ketekunannya, ia telah menemukan teknik bermain yang sangat jitu, sehingga setiap koin yang ia masukkan akan menghasilkan bonus ratusan lembar tiket. Dalam sehari, ia dapat mengumpulkan ribuan lembar tiket. Dari tiket yang terkumpul, ia tukar dengan hadiah yang tersedia, lalu hadiah tersebut dijual kembali. Percaya atau tidak, dengan bermain pria ini dapat menghidupi keluarganya dan bahkan dapat membeli dua unit mobil dari hasil permainan ini. Luar biasa bukan?


Menjadi Kaya karena Lele, percaya atau tidak?

Pertama kali bertemu dengan pak Abdul (nama panggilan), saya tidak berpikir bahwa dia adalah orang kaya, penampilannya yang sederhana, bahkan lebih mirip dengan seorang penarik becak. Ketika pertama kali pria ini datang ke kantor BPR dan mengajukan kredit senilai Rp. 100 juta, saya sempat tidak percaya, sehingga saya perlu waktu yang agak lama unutuk memperhatikan isi permohonannya, jangan-jangan ia salah menulis nilai permohonannya. Singkat cerita, setelah di-survey dan dianalisa, pak Abdul dapat diberikan kredit senilai Rp. 75 juta. Kok bisa?

Pak Abdul adalah seorang perantau asal Tegal, Jawa Tengah, tidak punya keahlian khusus, kecuali punya tenaga dan kemauan. Merantau ke Tangerang, awalnya menjadi asisten temannya yang menjual nasi goreng tek-tek keliling. Enam bulan berlangsung, pak Abdul menjadi ahli masak, terutama nasi goreng. Karena ada niat untuk maju, maka pak Abdul pun coba-coba berdagang sendiri, namun ia mengambil bidang yang berbeda dengan temannya, yaitu berjualan pecel lele, kebetulan di dekat kontrakannya banyak ikan lele. Jadilah pak Abdul sebagai penjual ikan lele keliling, walaupun sering diuber-uber oleh petugas trantip ataupun satpol pp, namun ia tidak pernah putus asa, bahkan semakin tekun. Pengalaman sering diobrak-abrik oleh petugas trantip telah memotivasi pak Abdul untuk berdagang di tempat yang resmi dan aman. Bekerja keras, tekun dan hemat menjadi pegangan pak Abdul untuk mencapai tujuannya. Karena ketekunan dan keseriusannya dalam berdagang pecel lele, usahanya pun semakin ramai dan semakin terkenal. Meskipun usahanya maju, pak Abdul tetap bersahaja, tetap tekun melayani para langganannya dengan sepenuh hati.

Dalam waktu kurang lebih 5 tahun, pak Abdul telah dapat membeli satu unit kios seharga Rp. 100 juta di daerah Tangerang dan saat ini dijadikan tempat usahanya. Kini, penghasilan bersihnya sedikitnya Rp. 10 juta per bulan, sehingga saat ini pak Abdul dapat membangun sebuah rumah tinggal yang nilainya kurang-lebih Rp. 150 juta, dimana separuhnya dibiayai oleh BPR.


Kesimpulan

Dari kedua cerita di atas dapat disimpulkan, bahwa apapun pekerjaan yang anda lakukan, lakukanlah dengan serius, tekun dan terus belajar. Pak Rudi menekuni permainan di Time-Zone dengan serius dan terus mempelajari cara yang jitu untuk dapat menguras isi mesin tiket tersebut dengan tujuan memperoleh penghasilan dari sana. Sementara itu, pak Abdul berdagang dengan serius, tekun dan penuh motivasi. Ia menjadi kuat karena banyak pengalaman yang ia jadikan pembelajaran untuk tetap survive dan berjuang mencapai kesuksesan. Dan pelajaran yang paling berharga adalah bahwa meskipun mereka sukses, mereka tetap tekun dan tetap bersahaja.

11 Apr 2009

Pengaruh Pemilu terhadap Kolektibilitas Kredit


Duduk di bangku Senayan, kursi empuk, enak untuk tidur, posisi terhormat, fasilitas berlimpah, dan tentu duit yang mengiurkan telah membuat banyak orang berusaha dengan segala cara untuk meraih impian itu. Tidak perduli apakah dirinya mampu atau tidak, mampu secara intelektual maupun materi. Hal ini terjadi pula pada kalangan yang hidupnya pas-pasan, segala sesuatu yang ada dikerahkan demi mengejar bangku impian.

Nasabah bank, khususnya nasabah bank perkreditan rakyat (bpr) yang ikut dalam caleg legislatif juga tidak sedikit. Tidak perduli apa partainya, yang penting bisa masuk dalam daftar caleg. Ada yang menjual tanah, rumah, dan harta benda lainnya. Yang lebih parah lagi adalah mereka memanfaatkan fasilitas pinjaman bank atau menggunakan dana pinjaman dari bank untuk mendanai pencalonan sampai pada kampanye pemilu. Kredit dari bank seharusnya untuk pengembangan usaha, namun tanpa pikir panjang, mereka alihkan untuk kampanye, sementara usaha ditelantarkan.

Kini pemilu sudah usai, ternyata banyak yang menjadi ling-lung, realita ternyata tidak seperti yang diimpikan, uang ludes, suara pemilih tak kunjung menghampiri mereka. Otak tidak mampu membayangkan apalagi berpikir. Salah siapa? Salah berita? Yang pasti para debitur kecil yang terkena musibah ini, akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya kepada bank, kualitas kredit akan memburuk, kinerja bank terganggu, dan seterusnya...

Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, melainkan kita harus ikut berperan di dalam menyadarkan masyarakat sekitar kita untuk berusaha pada sektor yang produktif, jangan cepat tergiur pada hal-hal yang tidak pasti. Senayan memang mengiurkan tetapi jangan lupa banyak juga yang akhirnya harus terkungkung di belakang jeruji besi atau masuk rumah sakit jiwa sebelum sempat melihat Senayan. Lebih baik kita konsentrasi pada komunitas lingkungan kita dan terus bahu-membahu meningkatkan kesejahteraan masyarakat seikitar kita.

29 Mar 2009

GRAMEEN BANK, Sebuah Inspirasi…

Penulis bersama Prof. Muhammad Yunus.

Gramen Bank, siapa sih yang tidak tahu. Saya yakin sebagian besar para pelaku keuangan mikro mengenal Professor Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank. Namun tidak ada salahnya kita mencoba mengenal lebih jauh apa sih yang dilakukan sang Professor hingga bergema ke seluruh penjuru dunia? Berikut ini penulis kutip dari buku “Grammen Bank at a Glance”, terbitan Juni 2008.

Proyek Grameen Bank lahir di desa Jobra, Bangladesh pada tahun 1976 dan pada tahun 1983 resmi menjadi sebuah bank. 13 Oktober 2006 merupakan hari yang sangat bersejarah dan juga hari yang sangat menggembirakan bagi rakyat Bangladesh, karena Grameen Bank dan Professor Muhammad Yunus menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006. Mereka pantas berbangga, karena mendapat pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan untuk menciptakan perdamaian dengan cara menurunkan tingkat kemiskinan. Kosep dan metodologi kredit mikro yang dianut oleh Grameen Bank selama 30 tahun telah memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesempatan damai dengan menurunkan tingkat kemiskinan.

Konsep Grameen Bank hampir berlawanan dengan apa yang selama ini dilakukan oleh bank-bank konvensional. Pada umumnya, bank konvensional menggunakan prinsip bahwa yang lebih kaya akan mendapatkan lebih banyak. Dengan kata lain, jika anda punya sedikit atau tidak punya apa-apa, maka anda tidak akan mendapat pinjaman. Sebagai akibatnya, lebih dari separuh penduduk dunia tidak mendapat pelayanan jasa keuangan dari bank konvensional. Jika bank konvensional lebih mengutamakan kolateral, sedangkan Grameen Bank tanpa agunan.

Grameen Bank percaya bahwa kredit seharusnya diterima oleh masyarakat seperti halnya hak asasi manusia. Grameen Bank memulai dengan menerapkan sistem dimana seseorang yang tidak punya apa-apa akan memperoleh prioritas tertinggi untuk mendapatkan pinjaman. Metodologi Grameen Bank tidak berdasarkan pada kepemilikan materi melainkan pada potensi seseorang. Sebenarnya manusia termasuk kaum miskin mempunyai berkah potensial yang tidak pernah berkesudahan.

Bank konvensional melihat apa yang telah diperoleh oleh seseorang, Grameen melihat potensi yang sedang menunggu untuk dilepaskan kepada seseorang.

Bank konvensional dimiliki oleh kaum kaya, sedangkan Grameen Bank dimiliki oleh kaum miskin. Tujuan bank konvensional umumnya adalah memaksimalkan profit, sedangkan Grameen Bank memberikan layanan keuangan kepada kaum miskin, khususnya kaum perempuan dan duafa untuk membantu mereka melawan kemiskinan, namun tetap menguntungkan. Sebagai gambaran, disaat Pemerintah Bangladesh menggulirkan program kredit mikro dengan suku bunga tetap 11% flat, Grameen bank suku bunga 0% (nol persen) untuk para pengemis, 5% bagi kredit pendidikan, 8% bagi kredit perumahan dan 20% bagi kredit untuk usaha dan semuanya dihitung dengan metode saldo menurun.

Bank konvensional lebih fokus pada nasabah pria, sedangkan Grameen Bank memberi prioritas utama kepada kaum perempuan (97% debiturnya adalah perempuan). Grameen Bank memiliki misi untuk memberdayakan kaum perempuan sekaligus menaikkan status perempuan-perempuan miskin di dalam lingkungan keluarga. Grameen bank pun berprinsip bahwa seharusnya bank yang mendatangi nasabahnya bukan sebaliknya, ini untuk meringankan beban mereka.

Suatu hal yang sangat mencolok adalah bahwa ketika seorang debitur mengalami kesulitan dalam membayar angsuran, bank konvensional umumnya dengan segala upaya menyelamatkan uangnya, bahkan tak jarang menggunakan jasa debt-collector yang sangar-sangar tanpa belas kasihan, Grameen Bank bekerja keras untuk membantu nasabahnya untuk keluar dari kesulitannya. Bank konvensional umumnya tidak pernah memperhatikan apa yang terjadi pada keluarga debiturnya setelah menerima pinjaman dari bank. Grameen Bank memberi perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan anak-anak melalui pemberian beasiswa bahkan memberikan pinjaman untuk pendidikan, masalah rumah, sanitasi, air bersih, bahkan hingga membantu ketika menghadapi bencana alam atau situasi darurat lainnya.

Kini Grameen Bank memiliki 2.517 kantor cabang dengan 24.489 pegawai yang melayani 82.312 desa dengan 7,53 juta debitur, dimana 97% diantaranya adalah kaum perempuan. Dan yang sangat menakjubkan adalah bahwa tingkat pengembalian kredit mencapai 98,11 %. Sejak 1995, Grameen Bank sudah tidak menerima dana dari donatur. Kini seluruh pembiayaan bersumber dari simpanan nasabahnya.

KESIMPULAN:
Dari apa yang telah kita pelajari di atas, ternyata bank dengan tujuan utama adalah memberdayakan masyarakat dapat berkembang dengan begitu dashyat dan memiliki hubungan emosional yang begitu mendalam antara nasabah dan bank, bahkan nasabah merasa memiliki bank, suatu kekuatan yang luar biasa. Bank bak pahlawan bagi masyarakat miskin, namun tetap dapat menciptakan laba.

RENUNGAN:
Ketika kita tidak berpihak pada nasabah maka tidak ada bedanya kita dengan rentenir. Ketika kita menggunakan jasa debt-collector maka tidak ada bedanya kita dengan preman. Ketika kita membuang muka saat nasabah datang menyapa, maka tidak ada bedanya kita dengan orang yang sedang menuju jalan buntu.

Kini saatnya kita mewujudkan arti seorang sahabat bagi debitur kita. Saatnya investasi kesetiaan untuk mendapatkan nasabah sejati melalui niat baik kita dalam melakukan pembinaan agar nasabah dapat melakukan usaha dengan lebih baik. Mewujudkan suatu lembaga keuangan mikro yang tangguh tidak cukup hanya melihat sisi penciptaan laba, tetapi perlu selalu mengupayakan peningkatan potensi masyarakat pengguna jasa kita. Karena sebenarnya potensi kita tergantung pada potensi masyarakat yang kita layani.