19 Feb 2011

Selain Gaji Masih Ada Sampingan

Rabu, 16 Feb 2011, di hadapanku duduklah sepasang suami istri, sebut saja namanya bapak M dan ibu S. Keduanya memenuhi panggilan bank terkait dengan permohonan kredit sebesar Rp. 40 juta. Ini adalah kebijakan bank, bahwa setiap pemohon perorangan dalam jumlah tertentu harus melalui tahapan wawancara yang harus datang bersama pasangannya.

Pak M berdasarkan data yang ada adalah seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di sebuah kecamatan di Jakarta, golongan 2d, dan menurut daftar gaji yang disodorkan, maka setiap bulannya dia menerima sekitar Rp. 6,5 juta (ternyata besar juga gaji seorang pns). Berdasarkan BI checking (sistem informasi debitur), bapak ini masih mempunyai pinjaman di suatu bank daerah dan cicilan kendaraan di suatu bank swasta, sehingga total angsuran kredit mencapai sekitar Rp. 5 juta tiap bulannya, artinya bapak M ini telah menghabiskan lebih dari 2/3 gajinya untuk membayar cicilan pinjaman.

Lalu seperti biasanya, saya konfirmasikan tentang tujuan penggunaannya,  katanya untuk biaya anaknya melanjutkan ke S1, semester ini anaknya akan tamat D3 perawat, nah mau lanjut ke S1 perlu uang Rp. 40 juta... wah, kok mahal sekali pak? tanyaku. Memangnya bapak mau masukkan ke sekolah mana pak? nggak, hanya lanjutkan di rumah sakit pemerintah.. lho, tambah bingung saya..

Lalu juga saya konfirmasikan penghasilan dan besarnya kewajibannya kepada pihak kreditur tiap bulannya. Berdasarkan data yang ada, maka pak M sudah tidak ada kemampuan untuk menambah besarnya angsuran kredit, dengan kata lain tidak layak untuk mendapatkan kredit lagi. Namun dengan entengnya, pak M menjawab bahwa dia sanggup membayarnya, karena selain gaji resmi, dia masih ada sampingan. Lho, sampingan dari mana? lalu dia menjawab 'bapak tahu sendiri lah... saya kan bagian bagi-bagi proyek, jadi tiap bulan pasti ada masukan dari situ...'

Dengan terpaksa, permohonan tersebut tidak dapat diproses lebih lanjut, alasan pertama adalah biaya untuk melanjutkan ke S1 ternyata sebagian digunakan untuk menyogok pihak rumah sakit agar anaknya diterima. Alasan kedua adalah sumber pengembalian kredit berasal dari hasil tilepan uang negara...

31 Des 2010

GARA-GARA TIDAK BISA MENOLAK PERMINTAAN - AKU JUALAN SOFTWARE LAGI

Isu Pertama Belum Menyentuh:
Awal Desember 2010, seorang teman dari Cirebon menanyakan adakah yang bisa memberikan pelatihan untuk topik penyusunan rencana kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang sesuai dengan SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik), lalu kujawab nanti saya carikan. Namun ternyata yang diharapkan lebih dari sekedar seorang Fasilitator (pengajar), melainkan adanya software aplikasi penyusunan rencana kerja BPR. Mungkin sedikit membuatnya kecewa, karena saya tidak bisa memberi harapan untuk menemukan fasilitator yang sekaligus punya software aplikasinya.


Ini Gara-garanya:
Beberapa hari kemudian, seorang temanku lagi tapi yang ini dari Padang, memintaku untuk memberikan pelatihan topik itu juga dan kalau bisa ada softwarenya....Dasar tipeku tidak bisa menolak tantangan, maka ku jawab nanti saya buat konsepnya dulu..Profesi lama ketika muda, kini tak dikira ku jalani lagi, walau ini bukan bisnis utama.


Itulah awal cerita saya menyiapkan sebuah software aplikasi penyusunan rencana kerja BPR yang mengacu pada SAK-ETAP. Sebuah software aplikasi yang dapat menghasilkan proyeksi neraca dan laporan laba/rugi yang wajib disampaikan oleh BPR kepada BI setiap tahunnya. Berbekal pengalamanku sendiri di dalam membuat rencana kerja dan pemahaman SAK-ETAP dengan Pedoman Akuntansi BPR, maka software aplikasi ini dirancang dengan menerapkan perencanaan komponen-komponen yang seharusnya ada di dalam rencana kerja secara detail dan semuanya terintegrasi dan otomatis menghasilkan laporan laba/rugi, neraca hingga perkiraan rasio-rasio keuangan.


Saran Seorang Teman:
Ketika aku ceritakan ke seorang temanku di Jakarta bahwa saya sudah buat software ini, tapi kalau saya ngajar topik ini nanti jadi tidak enak dengan rekan lain yang biasanya mengajarkan topik ini juga. Tapi ternyata dia punya pandangan lain, bahwa ilmu itu bukan milik seseorang saja, kalau ada software bagus tidak disebarluaskan dan membantu orang lain, sangat disayangkan. Benar juga ucapan temanku itu, siapa tahu banyak BPR yang saat ini sangat membutuhkan software aplikasi untuk memudahkan mereka dalam membuat rencana kerja tahunan.


Seorang temanku pun bersedia menjadi peserta pertama yang mengikuti pelatihan penggunaan software ini, aku pantas berterima kasih kepadanya, karena dengan demikian sekaligus dapat mengetahui adanya kelemahan atau kekurangan yang perlu disempurnakan.


Langkah selanjutnya adalah memenuhi permintaan temanku untuk men-delivery software ini berikut pelatihannya di kota Bukit Tinggi. Lumayan sekalian lihat kembali kota Bukit Tinggi dan tentunya bisa bawa kripik balado khas sumatera barat.


Semoga software aplikasi ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan direksi BPR di seluruh Tanah Air....

17 Apr 2010

Cerita Mengikuti Seminar Markplus BPR di Bali Sampai Seorang Supir HERO

tadinya saya kira seminar ini sama seperti seminar-seminar lain yang umumnya minim bobot. tapi ga apalah ikutan aja, meskipun jauh dari jakarta, kebetulan ini adalah salah satu event yg diadakan oleh teman-teman dari bali. artinya tempatnya pasti di bali...yang penting itu ketemu sama rekan2 seprofesi, acaranya sih ga penting..minimal itu isu yang terhimpun sebelum berangkat ke bali.

sebenarnya ada niat juga mau ngajak keluarga ke sana, sekalian liburan, lumayan kan? tapi ternyata ga bisa, anakku yg pertama, katanya ada acara pembubaran pengurus himpunan mahasiswa jurusan di tempat kuliahnya, anakku yg kecil masih ada ujian akhir sekolah, jadi ya artinya kita ga bisa liburan, jadi ya buat apa juga nginap disana, ok saya putuskan pulang hari aja, meskipun banyak disayangkan teman-teman, sampai-sampai teman dari bali bersedia mengurus penundaan jadwal tiket pesawat yg udah saya beli...tapi saya udah sedia stock alasan yg cukup, tapi yg paling tepat saya harus pulang hari itu juga adalah karena saya udah terlanjur parkir mobil di pelataran parkir terminal internasional soekarno-hatta, yaitu 2 F.

take off dari jalur pacu soekarno-hatta  jam 7:30 dengan burung garuda, bersama 2 sahabatku...satu setengah jam perjalanan, artinya sampai di ngurah rai  jam 9 an, eh ternyata jamnya harus diubah jadi jam 10 ketika sampai di bali. masih setengah jam waktu yg diperlukan untuk menuju hotel aston denpasar...wah ternyata kami terlambat... tapi ga apa2, kami coba menghibur diri atau lebih tepatnya membuat pembelaan diri, kan acara awal itu seperti biasanya lomba pidato aja...sekarang baru acara inti, yaitu seminarnya...

masuk ke ruang seminar disambut dengan rekan dari bali dengan penuh kehangatan, dan mulailah kami duduk di kursi yang masih kosong di antara 600 an peserta lainnya dari seluruh Indonesia. setelah menyesuaikan diri sedikit demi sedikit dengan situasi ruangan, mulailah menyimak materi seminar, meskipun tak dapat dipungkiri sesekali menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, ingin tau aja siapa teman2 yg ikut disitu.

pak hermawan kartajaya sang profesor marketing sedang beraksi dengan gayanya yg sangat interaktif membuat peserta antusias mengikutinya. sesi demi sesi dilalui, saling ganti dengan 2 orang rekannya....tidak terasa mereka berhasil memukau peserta meskipun pada jam-jam rawan, artinya jam-jam sehabis makan siang menjelang sore, umumnya jam ngantuk, jam-jam biasanya peserta lebih memilih meninggalkan ruangan acara, tapi ini luar biasa, peserta masih penuh hingga sore...

ternyata seminar ini sangat dapat menginspirasi....materinya bagus, dalam arti dapat segera dipraktekkan, karena ada hal-hal kecil yang selama ini tidak kita sadari, ternyata kalau kita lakukan dapat menjadi arah penentu keberhasilan ke depan. intinya beliau dan tim membahas konsep new wave marketing...bukan lagi vertikal melainkan horizontal...jadilah seorang HERO...

sesi terakhir diisi oleh para bankir bpr yang sukses membawa institusinya menjadi lembaga keuangan mikro yang dapat diperhitungkan sekaligus membawa manfaat bagi pengembangan keuangan mikro di Indonesia. karena sekarang bukannya lagi menjual feature, melainkan harusnya memberi benefit kepada nasabah kita, demikian disimpulkan oleh Hermawan Kartajaya dari apa yang disampaikan oleh para bankir bpr tadi. bank besar sukses karena punya modal besar, bpr sukses karena memberi benefit melalui HERO-HERO yang ada di bpr...apasih HERO? ternyata butuh waktu 2 jam untuk menjelaskannya....ayo kita cari tahu...

tak terasa waktu bali sudah menunjukkan jam 18:30, hari ini betul-betul hari yang padat, hari yang penuh benefit, di benakku tercipta sejumlah ide yang terasa sudah tak sabar untuk segera diaplikasikan...terima kasih pak profesor...

jam 23:30 waktu jakarta, saya keluar dari airport soekarno-hatta...eh ternyata saya ada di termnial 1A, karena naik seekor singa (Lion), padahal mobilku ada di parkiran terminal 2F. lumayan jauh dari terminal 1A ke 2F, cari shuttle bus ah...ditunggu-tunggu koq ga ada yang lewat...teringat pesan nenek, malu bertanya sesat di jalan...tanya-tanya ternyata sudah tidak ada shuttle bus lagi kalau sudah jam segini...mau cari ojek ternyata ga ada juga, yang ada cuma taksi, ya apa boleh buat, coba-coba menyetop taksi...kenapa para supir taksi memberi kesan sombong dan kurang berminat mengangkut penumpang dari terminal 1A ke 2F, bahkan mematok tarif 30 ribu....sampai akhirnya supir blue bird menghampiri dengan penuh keramahan, dia bilang naik aja, saya anterin...diapun nyalakan argo...dan ternyata hanya 10 ribu...itulah supir HERO, dalam hati saya pikir jangan2 bluebird sudah diajari konsepnya sang Profesor....atau sebaliknya sang profesor terinspirasi dari kiat-kiat orang-orang sukses yang selalu berpikir bagaimana memberi manfaat kepada pelanggannya, bukan mengeruk manfaat dari pelanggan? entahlah, tapi yg jelas sang Profesor bisa menyebarluaskan kiat-kiat itu...

terima kasih pak supir blue-bird, HERO nya telah menginspirasi saya...

2 Des 2009

Ujian Pertama Menjadi Seorang Guru

oleh Zinsari


Ketika sang dosen memperkenalkan ZetIEn kepada Kepala Sekolah SMA Negeri di Yogyakarta tahun 1982, saat itu merupakan suatu anugerah besar yang dia dapatkan. ZetIEn mendapat kesempatan dan kehormatan menjadi seorang guru di SMA, suatu pekerjaan yang sangat mulia dan juga sekaligus dapat membantunya meringankan beban orang tua dan kakaknya.

Namun ternyata meskipun diperkenalkan oleh sang dosen, untuk menjadi guru disana tidaklah diterima begitu saja. Sang kepala sekolah meminta dia untuk datang ke rumahnya hari minggu.Hatinya bingung apakah harus senang atau khawatir, karena belum tahu apa yang akan dihadapi hari minggu nanti. Apakah akan diajak makan bersama? diperkenalkan dengan anaknya? diminta merapihkan taman? atau hanya mau ngobrol2? wah serba belum pasti...

Ketika harinya tiba, dia datang sesuai permintaan sang kepala sekolah dengan hati yang sedikit gelisah. Tapi apapun yang akan terjadi harus dihadapi, jangan permalukan sang dosen, itu tekadnya. Ketika kepala sekolah menunjuk ke arah sebuah televisi kuno di pojok ruangan, pikirannya mulai terbuka. Bagaimana tidak, televisi tersebut dalam keadaan mati, sedikit kusam. Kepala sekolah meminta dia untuk coba menghidupkannya, karena sudah lama tidak bisa dihidupkan. Karuan saja, pikiran dia, memang betul dia kuliah di bidang teknik elektro, tetapi di kampus kan tidak diajarkan bagaimana memperbaiki televisi. Boro-boro membetulkan tv, sejak kecil sampai SMA dia memang tidak punya televisi di rumah, nonton televisi mungkin masih bisa dihitung dengan jari, yaitu nonton di ruang tamu kosnya. Lagi pula televisi yang dihadapi ini tv kuno, masih pakai pintu garasi di depan layarnya.


Sekali lagi, pantang mundur, dia coba minta obeng, lalu perlahan dibukanya casing televisi itu. Ternyata nasib baik berpihak padanya, ia secara tak sengaja melihat kabel power di dalamnya terputus. Mencoba menyambung kabel yang putus, lalu coba nyalakan televisi kuno itu, ternyata tokcer.

Sang kepala sekolah senangnya bukan main, disalaminya dengan penuh kehangatan, dan memberi dia ucapkan selamat, besok anda mulai mengajar anak kelas I katanya. Lega hati ZetIEn, bersukurlah dia, karena kebaikan berpihak kepadanya. Besoknya mulailah ZetIEn menjadi seorang guru muda di SMA Negeri yang cukup favorit di Yogyakarta kala itu. Pengalaman mengajar di SMA ternyata merupakan pertanda kelak dia akan menjadi seorang pendidik...

14 Jul 2009

Liku-Liku Memilih Software BPR



oleh Zinsari



Software yang bagus dan handal tentu merupakan harapan bagi kebanyakan pengurus BPR, selain untuk meningkatkan kualitas informasi, juga dapat meningkatkan citra BPR di mata nasabah maupun masyarakat. Software yang canggih juga dapat mempengaruhi semangat pelayanan seluruh jajaran BPR kepada nasabahnya.

Mendapatkan software yang bagus dan handal ternyata penuh dengan liku-liku, artinya tidaklah gampang untuk menentukan pilihan, apakah buatan si A, si B, atau si C, dan seterusnya.Tak jarang pula BPR terpaksa mengganti software yang sudah ada dengan software yang baru, karena tidak sesuai harapannya. Dikatakan terpaksa, karena sungguh merepotkan kalau kita mengganti-ganti software pada saat mana kita juga harus melayani nasabah dan sekaligus harus memenuhi ketentuan pelaporan kepada Bank Indonesia, Kantor Pelayanan Pajak, dan sebagainya.

Mengapa BPR mengganti software? Beberapa alasan yang sering dijumpai adalah software yang ada sering terjadi error, program macet, laporan tidak memadai, tidak sesuai dengan business process, berbelit-belit susah untuk mengoperasikannya, tidak bisa link dengan sistem pelaporan bulanan Bank Indonesia maupun Sistem Informasi Debitur.

Sudah hampir bisa dipastikan bahwa software yang kita beli tersebut tidaklah dapat kita perbaiki sendiri ataupun modifikasi sendiri, sekalipun anda ahli komputer. Mengapa? Karena umumnya software yang kita beli adalah berupa execute file, yang bagi awam sering dikatakan hanya berupa bahasa mesin, sedangkan program aslinya (source code) ada di tangan pembuat software. Singkat cerita, kita tergantung kepada para pembuat software tersebut. Sering pula para pembuat software tidak memiliki pelayanan purnajual yang baik. Sampai disini, sedikitnya kita menemukan dua hal yang perlu kita pertimbangkan, yaitu masalah pemilihan software dan siapa pembuat software-nya?


PEMILIHAN SOFTWARE


Sebelum kita memilih software mana yang akan dipakai, tentu kita sendiri perlu memahami apa yang kita perlukan, misalnya prihal bagaimana business process yang ada, laporan apa saja yang kita perlukan, serta kaitannya dengan pelaporan kepada Bank Indonesia. Dengan demikian kita dapat meneliti kesesuaian software yang ditawarkan dengan kebutuhan kita. Apabila business process yang ada di BPR dapat dipenuhi oleh software yang ditawarkan, kita dapat meneliti beberapa poin berikut, antara lain:

  1. Apakah software tersebut mudah dioperasikan? Software yang mudah dioperasikan tentu saja akan memperkecil risiko kesalahan dan mendukung peningkatan pelayanan kita kepada nasabah.
  2. Apakah tampilan pada setiap layar input dan tampilan laporan menarik? Tampilan yang menarik tentu saja akan menyenangkan bagi siapa saja yang mengoperasikan software tersebut, dan harapannya adalah sipemakai akan lebih semangat pada saat bekerja dengan software tersebut.
  3. Apakah dapat menghasilkan laporan-laporan yang kita butuhkan? Laporan merupakan informasi yang sangat kita butuhkan, baik dalam operasional sehari-hari, maupun sebagai masukan dalam rangka pengambilan keputusan. Adalah perlu bagi kita untuk meneliti apakah software tersebut dapat memenuhi laporan-laporan yang kita inginkan? Apakah frekwensi penyajian laporan-laporan tersebut sesuai dengan kebutuhan kita?
  4. Apakah tersedia parameter-parameter yang dapat dibuat sesuai dengan ketentuan atau kebijakan kita? Ini merupakan unsur yang sangat penting untuk mengetahui seberapa fleksibel software tersebut, apakah dengan parameter yang ada kita dapat mengaplikasikan produk-produk kita?
  5. Apakah tuntutan kebutuhan hardware dapat kita penuhi? Perlu sekali bagi kita untuk mengetahui spesifikasi hardware yang dibutuhkan oleh software tersebut.
  6. Apakah data dan informasi dikelola dengan aman? Perlu diketahui bagaimana software tersebut mengelola user atau personil yang berwenang mengoperasikan masing-masing fitur yang ada. Apakah metode pengamanan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku?
  7. Apakah tersedia fasilitas untuk interface dengan aplikasi lain, terutama dengan aplikasi laporan bulanan Bank Indonesia dan Sistem Informasi Debitur? Jika kedua aplikasi tersebut dapat mendapatkan data secara langsung dari software tersebut, maka akan sangat membantu pelaporan ke Bank Indonesia, dimana kita tidak perlu lagi input ulang data yang sudah ada.
  8. Apakah software tersebut dapat menangani proses akhir hari, akhir bulan, dan akhir tahun dengan benar?
  9. Bagaimana software tersebut menangani backup data? Bagaimana pula penanganan data kedaluarsa? Apakah semuanya dilakukan dengan baik dan aman?
  10. Apakah tersedia fasilitas untuk mengatasi problem yang timbul? Dalam hal terjadi kesalahan, apakah ada petunjuk langkah-langkah apa yang harus dilakukan?
  11. Apakah tersedia panduan pemakaian? Panduan pemakaian adalah suatu keharusan, janganlah menganggap remeh, karena sering kali ketiadaan panduan menjadi masalah pada saat terjadinya penggantian personil di kemudian hari.


Selain hal-hal diatas, sebenarnya akan lebih baik kalau kita juga dapat mengetahui bagaimana metode perancangan software tersebut, bahasa apa yang dipakai, database apa yang dipakai (misalnya apakah menggunakan SQL, Access atau lainnya), serta bagaimana bentuk rancangan database tersebut. Dengan mengetahui secara pasti hal-hal teknis perancangan software tentu akan sangat menentukan keandalan suatu software. Perlu diketahui juga bahwa tidak semua programmer mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai, sehingga akan sangat mempengaruhi hasil rancangannya. Tentu hal ini sulit bagi orang yang awam di bidang software. Jadi bagaimana dong? Jangan khawatir, kita bisa menggunakan jasa konsultan IT untuk membantu kita pada saat meneliti software tersebut.


PEMILIHAN VENDOR


Terus terang, pemilihan vendor merupakan hal yang paling memusingkan, jauh lebih susah dari pada pemilihan software itu sendiri. Seperti dikatakan di atas, bahwa sebagai pembeli, kita sangat tergantung pada si penjual (pembuat) software tersebut. Kita ketahui, di Indonesia banyak pembuat software, baik yang perorangan maupun perusahaan, pertanyaannya: pilih perorangan atau perusahaan? Kedua-duanya ada kelebihan dan kekurangannya, terutama terkait dengan harga jualnya. Sekarang kita perlu timbang-timbang mana yang lebih menguntungkan untuk kita, tentu saja selain harga, kita perlu mempertimbangkan aspek pelayanan purnajualnya.

Sebenarnya yang paling kita perlukan adalah komitmen dari si pembuat software untuk terus melayani kita. Apakah komitmen tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk janji? sumpah? atau perjanjian tertulis? Apapun bentuknya, kita perlu menyadari berbagai ancaman yang mungkin timbul, misalnya perorangan tersebut berhalangan, atau perusahaan tersebut bubar, dan sebagainya.

Secara logika, pembuat yang perorangan memliki risiko lebih tinggi untuk tidak memenuhi kewajibannya kepada kita, mengapa? Umumnya disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • tidak punya waktu, karena kliennya terlalu banyak dan tidak bisa ditangani oleh seorang diri;
  • yang bersangkutan mendapat pekerjaan lain;
  • yang bersangkutan sedang keluar kota;
  • yang bersangkutan terjadi konflik pribadi dengan klien;
  • yang bersangkutan sakit, atau terparahnya meninggalkan kita semua.


Selain risiko pelayanan, sebenarnya pembuat software perorangan umumnya cenderung kurang sempurna di dalam merancang software dibandingkan dengan hasil rancangan oleh suatu tim, dalam arti tidak semuanya dapat terpikirkan oleh seorang diri dibandingkan oleh sekelompok orang yang bekerja secara tim, ada saja hal-hal yang luput dari pemikirannya atau ada saja hal yang terabaikan.

Secara prinsip, vendor berupa suatu badan hukum tentu lebih baik dibandingkan dengan perorangan, namun ada hal-hal yang perlu kita ketahui, misalnya:

  1. Siapa pemiliknya? Apakah pemiliknya punya komitmen dan keseriusan dalam mempertahankan eksistensi perusahaannya?
  2. Siapa pengurusnya? Apakah juga punya komitmen dan reputasi dalam menjalankan perusahaan tersebut?
  3. Siapa saja kliennya? Apakah klien-klien tersebut merasa bangga menggunakan software-nya? Bila perlu, kita bisa mendapatkan masukan dari para klien tentang software tersebut. Namun perlu diingat, umumnya vendor akan menyodorkan daftar klien yang menurutnya akan memberikan informasi positif baginya.
  4. Berapa lama perusahaan tersebut telah beroperasi? Hal ini akan memberi gambaran daya tahan perusahaan tersebut.
  5. Berapa banyak kliennya? Banyaknya klien, secara kasat mata dapat menunjukkan reputasi perusahaan tersebut, juga dapat meyakinkan bahwa perusahaan tersebut punya tanggung jawab banyak dan tentu saja akan terus dipertahankan dan sekaligus juga memberinya penghasilan agar dapat tetap exsist.
  6. Berapa jumlah staff perusahaan tersebut yang bertugas di bagian pelayanan purnajual? Apakah jumlah staff mampu melayani klien-kliennya?
  7. Bagaimana turn-over pegawai di perusahaan tersebut? Apakah perusahaan menjadi kebanggaan bagi pegawainya? Turn-over pegawai yang tinggi merupakan tanda-tanda yang kurang baik bagi kelangsungan perusahaan tersebut.


Untuk mendapatkan informasi tersebut tentu tidaklah mudah, selalu membina hubungan dan komunikasi sesama pengurus BPR mungkin dapat membantu. Alangkah indahnya, apabila kita sesama pengurus BPR mempunyai semangat kebersamaan, semangat untuk membangun citra BPR di mata masyarakat, salah satunya melalui saling memberikan informasi tentang software yang bagus dan handal, dan tentu saja siapa vendor yang baik itu?

4 Jul 2009

DIBALIK SUATU KESUKSESAN

Oleh Zinsari


Tidak ada sukses yang tiba-tiba, itulah kalimat yang sering disampaikan oleh orang-orang bijak, artinya sukses itu merupakan hasil dari suatu upaya yang sungguh-sungguh dan terencana dengan baik. Banyak juga orang mengatakan bahwa pendapat itu salah, dengan alasan banyak juga sukses yang mereka raih meskipun tanpa usaha yang berarti. Betul sih, tidak salah, tapi kalau saya yang memberi pendapat, itu bukanlah suatu kesuksesan, melainkan hanyalah suatu kebetulan. Nah, kesuksesan yang kebetulan (dibaca: tanpa upaya yang berarti) akan kurang bermakna bagi yang mengalaminya, mungkin ia akan kurang bisa merasakan bahwa itu adalah kesuksesannya, ia akan kurang bisa memetik hikmah dari kesuksesannya, dan bahkan banyak pihak yang tidak siap menerima kesuksesan yang kebetulan tersebut apalagi yang sifatnya tiba-tiba, yang lebih dikenal dengan rejeki nomplok, akibatnya bisa berbagai macam, antara lain:

  1. ia akan cenderung menghamburkan, foya-foya atau cara lain untuk menikmati kesuksesan itu;
  2. ia akan berharap dapat mendapatkan kesuksesan berikutnya tanpa berupaya;
  3. dan mungkin masih banyak lagi.


Jadi sebenarnya mendapatkan rejeki nomplok itu adalah suatu cobaan ataupun suatu ujian apakah kita akan bersyukur dan memanfaatkan rejeki nomplok itu untuk hal-hal yang positif. Ketika kita tidak bisa bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik, maka itu sebenarnya merupakan suatu kegagalan. Suatu investasi negatif, benih-benih kegagalan yang sedang kita tanam.

Disini, kita tidak akan berbicara mengenai rejeki nomplok, karena itu bukanlah suatu yang nyata, itu lebih banyak bersifat mimpi. Disini, kita akan membicarakan kesuksesan yang sesungguhnya, kesuksesan yang akan dicapai melalui suatu perencanaan dan penuh dengan perjuangan. Disini, kita akan menguak kiat bank yang sukses.

Orang bijak mengatakan, dibalik bank yang sukses, selalu ada team work yang kuat, artinya bank yang sukses itu tidak mungkin hanya karena satu orang, atau hanya usaha segelintir orang, melainkan ada kerja tim yang kuat, tim yang tangguh dan sebagainya. Di dalam tim yang kuat – tangguh, selalu ada individu-individu yang efektif. Sehingga di dalam membangun team work diperlukan:

  1. adanya tujuan bersama yang jelas;
  2. adanya aturan dan garis komando yang jelas;
  3. adanya saling mendukung;
  4. adanya saling pengertian; dan
  5. adanya saling percaya.

Individu yang efektif adalah orang-orang yang punya kompetensi, punya interpersonal skill dan tentunya harus punya komitmen juga. Kompeten artinya ia mampu melaksanakan tugas sesuai dengan kinerja yang diharapkan. Ia juga harus punya keahlian untuk berinteraksi dengan sesama. Ia juga harus punya komitmen untuk melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab, penuh dengan dedikasi dan penuh dengan integritas. Dengan demikian, ia akan menjadi individu yang dapat dipercaya di dalam team work. Jadi, dimanapun kita bekerja, mari kita hadirkan diri kita sebagai individu yang efektif guna membangun team work yang kuat dan tangguh. Semoga sukses akan kita raih.